FILOGI

FILOGI
WE ARE FILOGI ( FILSAFAT PSYCHOLOGY) Dilatarbelakangi oleh Tugas Filsafat dari kelas LC64 BINUS University, di blog ini berisi tentang ulasan kembali yang di ringkas (Summary) dari beberapa pelajaran atau sumber lain.

Senin, 29 Juni 2015

Field Trip Setu Babakan : Agama dan Interaksi Sosial di Kampung Betawi

AGAMA DAN INTERAKSI SOSIAL YANG TERDAPAT DI KAMPUNG BETAWI


Kata Pengantar

    Tugas ini adalah Tugas Akhir dari mata kuliah Ilmu Sosial untuk Psikologi. Kami sudah melakukan wawancara di Setu Babakan, Jagakarsa. Kami berusaha menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana supaya masyarakat mudah mengerti maksud pertanyaan kami. Pertanyaan-pertanyaan kami seperti: Apa saja agama yang ada di Kampung Betawi? - Agama yang menjadi mayoritas di Kampung Betawi? - Apa saja tempat ibadah yang ada di Kampung Betawi? - Bagaimana interaksi antar agama di Kampung Betawi? - Apa saja upacara agama yang ada di Kampung Betawi? dan siapa saja pemuka agama di Kampung Betawi? Kemudian kami menganalisis apakah hal-hal yang kami tanyakan  masih dipertahankan atau sudah mengalami perubahan karena adanya pengaruh Modernisasi dan Globalisasi. Dari tugas ini kita dapat melihat bagaimana pengaruh Modernisasi dan Globalisasi terhadap agama dan interaksi sosial masyarakat di Kampung Betawi. 
1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

     Indonesia adalah sebuah negara yang sangat heterogen dalam berbagai hal, meliputi suku, bahasa, agama, warna kulit, budaya dan sebagainya. Kami membahas tentang agama dan interaksi sosial di Kampung Betawi dan melihat apakah ada perubahan terhadap agama dan interaksi sosial di Kampung Betawi akibat pengaruh Modernisme dan Globalisasi. Modernisme merupakan reaksi individu dan kelompok terhadap dunia modern, dunia modern ini merupakan dunia yang dipengaruhi oleh praktik dan teori kapitalisme, industrialisme, dan negara-bangsa. Sedangkan Globalisasi adalah sebuah proses integrasi internasional yang terjadi karena adanya pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. 

   Setu Babakan merupakan sebuah kawasan perkampungan yang sudah ditetapkan Pemerintah Jakarta sebagai tempat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Di perkampungan ini, masyarakat Setu Babakan masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas Betawi, memancing, bercocok tanam, berdagang, membuat kerajinan tangan, dan membuat makanan khas Betawi, mereka aktif menjaga lingkungan dan meningkatkan taraf hidupnya. Setu Babakan adalah kawasan yang  masih memiliki nuansa kuat dan murni baik dari sisi budaya, seni pertunjukan, jajanan, busana, rutinitas keagamaan, maupun bentuk rumah Betawi. Keberadaan agama dan interaksi sosial yang terdapat di Kampung Betawi meskipun masih kental mengalami sedikit penurunan, yaitu dalam hal bangunan-bangunan tempat ibadahnya mulai modern dan terdapat “budaya praktis” dimana masyarakat sudah merasa tahap-tahap yang dilakukan untuk upacara pernikahan merepotkan, hal ini  berarti sudah terdapat pengaruh Modernisme dan Globalisasi di masyarakat Kampung Betawi. 

    Apabila masyarakat DKI Jakarta berdiam diri dan tidak berusaha untuk mempertahankan hal ini maka dampak Modernisasi dan Globalisasi yang akan melunturkan kekhasan Kampung Betawi semakin besar. Maka dari itu kami mahasiswa/i dari Psikologi Binus University seluruh angkatan 2018  mendapatkan tugas untuk menjalankan Field Trip ke Kampung Betawi, Setu Babakan. Kami merasa sangat senang, dimana dalam tugas ini kami merasa seperti liburan bersama namun sambil menjalankan tugas yang sudah dibagikan. Kami melakukan wawancara dengan beberapa warga sesuai dengan topik yang kami dapatkan. Dengan melakukan wawancara saya mendapatkan banyak manfaat, yaitu mengetahui berbagai hal mengenai masyarakat asli Kampung Betawi dalam kehidupan sehari-harinya dalam hal agama dan interaksi sosialnya, dimana warga di Kampung Betawi tidak memiliki Pandangan Etnosentrisme. Etnosentrisme adalah sikap yang menganggap hanya norma-norma, nilai-nilai agama, dan perilaku kelompoknya sendiri yang baik, sementara kelompok lain dilihat sebagai jelek, tidak benar dan tidak penting.

1.2  Tujuan

Tujuan dari wawancara yang kami lakukan adalah
1. Untuk mengetahui apa saja agama yang ada di Kampung Betawi.
2. Untuk mengetahui tempat ibadah yang ada di Kampung Betawi.
3. Untuk mengetahui upacara yang ada di Kampung Betawi.
4. Untuk mengetahui pemuka agama di Kampung Betawi.
5. Untuk mengetahui interaksi antar agama di Kampung Betawi.

2. Bahan dan Metode

2.1 Tempat dan Waktu Penelitian
   Penelitian dilakukan di daerah Perkampungan Betawi Setu Babakan, Jagakarsa dan dilaksanakan pada hari Rabu, 13 Juni 2015.

2.2 Metode Penelitian
   Metode yang kami gunakan adalah metode observasi, yaitu dengan cara turun langsung ke lapangan (melakukan survey) ke objek wisata budaya Betawi, Setu Babakan. Kami melakukan wawancara dengan beberapa penduduk asli dan mencatat informasi yang diperoleh. 

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Mengenai agama yang ada di Kampung Betawi
     Menurut Wallace, agama adalah keyakinan dan ritual peduli dengan makhluk gaib, kekuatan, dan kekuasaan. Agama didefinisikan sebagai budaya universal.

     Menurut informasi yang kami dapatkan dari beberapa warga yang kami wawancarai, hanya sedikit warga Setu Babakan yang menganut agama Kristen dan Katolik, mayoritas masyarakat Setu Babakan menganut agama Islam, bisa dikatakan 99% menganut agama Islam. 

3.2 Mengenai tempat ibadah yang di Kampung Betawi
    Sehubungan dengan informasi bahwa agama mayoritas di Kampung Betawi adalah agama Islam (Muslim) maka tempat ibadah yang ada adalah Masjid. Bangunannya sudah mulai modern yang berarti terdapat pengaruh Modernisme dan Globalisasi.

3.3 Mengenai upacara yang ada di Kampung Betawi
     Upacara yang masih selalu dilakukan di Kampung Betawi adalah upacara pemakaman (ziarah atau nyekar). Mengenai kebiasaan yang selalu dilakukan secara turun-temurun dan terus dilestarikan adalah melakukan silahturahmi ke tetangga dan keluarga, biasanya yang muda mendatangi yang lebih tua. Terdapat beberapa upacara adat Betawi:

1. Pernikahan
      Terdapat tahap-tahap untuk mencapai rumah tangga pada masyarakat Betawi, meskipun jarang dilakukan karena berbagai halangan dan adanya “budaya praktis” dimana masyarakat memandang tahap-tahap ini terlalu merepotkan. Hal ini juga merupakan salah satu dampak negatif dari Globalisasi dan Modernisme. 

Tahap-tahap tersebut meliputi:
a. Ngedelegin :  mencari calon menantu perempuan yang di lakukan oleh Mak Comblang.
b. Ngelamar : pernyataan meminta pihak lelaki kepada pihak perempuan.
c. Bawa Tende Putus : kesepakatan kapan pernikahan akan dilaksanakan.  
d. Ngerudat : rombongan keluarga pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan, sambil membawa serah-serahan,seperti : roti budaya, pesalin, sie, dan lain-lain.
e. Akad Nikah : ikrar yang di ucapkan oleh pengantin laki-laki di hadapan  wali pengantin perempuan.  
f. Kebesaran : upacara kedua mempelai duduk di puade untuk menerima ucapan selamat dari keluarga dan undangan. 
g. Negor : upaya suami merayu istrinya untuk memulai hidup baru sebagai sebuah keluarga.
h. Pulang Tige Ari : upacara resepsi pernikahan yang di lakukan di rumah keluarga pengantin lelaki. 

2. Khatam Quran (di Betawi sering disebut Tamatan Quran)
     Upacara ini sangat penting bagi masyarakat Betawi karena orang yang sudah melaksanakan upacara ini dianggap telah mengerti ajaran agama Islam. Penentu seseorang sudah layak dikategorikan tamat adalah guru ngajinya sendiri yang mengajarkan dan mengamati secara intensif. Selamatan atau kenduri menandai tamatnya si anak dalam soal mengaji Quran.

3. Akeke (Akekah)
      Merupakan upacara selamatan pemberian nama dan pencukuran rambut bayi. Pada upacara itu kambing dipotong, satu ekor untuk bayi perempuan dan dua ekor untuk bayi laki-laki. Hasil seluruh rambut yang dipotong atau dicukur dikumpulkan kemudian ditimbang dengan ukuran gram. Misalnya jumlah timbangannya  5 gram, maka ayah si bayi yang sekarang sudah diberi nama, akan membeli emas sebanyak 5 gram. Jumlah uang untuk membeli emas yang 5 gram emas itu akan disumbangkan kepada anak yatim piatu dan fakir miskin. Akeke juga dimeriahkan dengan pembacaan maulid Al-Barjanzi dan pembagian "berekat" (besek) untuk peserta kenduri.

4. Sunatan
     Sunat bagi orang Betawi adalah upacara memotong ujung kelamin anak lelaki dalam ukuran tertentu. Menurut ajaran Agama Islam, bila anak lelaki memasuki akil balig, ia harus segera dikhitan (disunat). Anak lelaki yang sudah akil balig tetapi belum disunat, shalatnya tidak sah. Dalam tradisi Betawi, sunat diartikan sebagai proses pembeda. Berarti seorang anak lelaki yang sudah sunat sudah memasuki dunia akil balig. Karena sudah akil balig, maka dia seharusnya sudah mampu membedakan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa. Ia sudah selayaknya mampu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang melanggar ajaran agama dan adat kesopanan di masyarakat.

3.4 Mengenai pemuka agama di Kampung Betawi
   Pemuka agama di Kampung Betawi yang mayoritasnya Muslim (Islam) adalah Ustad (guru), Ulama dan Kiyai.

3.5 Mengenai interaksi antar agama di Kampung Betawi
     Tidak terdapat Sikap Etnosentrisme pada masyarakat Kampung Betawi terhadap agama lain selain Islam. Artinya dalam interaksi tidak ditemukan orang yang mempunyai sikap yang menganggap hanya norma-norma, nilai-nilai agama, dan perilaku kelompoknya sendiri yang baik, sementara lain orang lain dilihat sebagai jelek, tidak benar dan tidak penting. Interaksi antar agama di Kampung Betawi sangat baik, tidak ada sikap membedakan dan fanatik terhadap agamanya sendiri. 
“Sama saja, semua manusia”, merupakan salah satu tanggapan warga Kampung Betawi yang kami wawancarai. Saya secara individu sangat bangga mendengarnya, dari beberapa warga yang kami wawancarai semua mengatakan bahwa tidak ada pembedaan karena agama yang berbeda, kita harus bangga dengan masyarakat di Kampung Betawi yang saling menghargai dan menghormati satu sama lain, tidak terpengaruh dengan adanya perbedaan agama. Dan berarti tidak terdapat pengaruh Globalisasi dan Modernisme dalam interaksi antar agama di Kampung Betawi.

4. Kesimpulan 

   Suku Betawi adalah sebuah suku bangsa yang pada umumnya bertempat tinggal di Jakarta. Mayoritas agama penduduk Kmapung Betawi adalah Islam (Muslim), tempat ibadahnya adalah Masjid, upacara yang masih terus dilakukan adalah ziarah (nyekar) dan melakukan silahturahmi ke rumah tetangga atau keluarga, dimana biasanya yang muda datang ke rumah yang lebih tua (dituakan), upacara adatnya meliputi: 1) Pernikahan, terdapat tahap-tahap untuk mencapai rumah tangga pada masyarakat Betawi, meskipun jarang dilakukan karena berbagai halangan dan adanya “budaya praktis” dimana masyarakat memandang tahap-tahap ini terlalu merepotkan, ini merupakan salah satu dampak negatif dari Globalisasi dan Modernisme, 2) Khatam Quran (di Betawi sering disebut Tamatan Quran), orang yang sudah melaksanakan upacara ini dianggap telah mengerti ajaran agama Islam, 3) Akeke (Akekah), merupakan upacara selamatan pemberian nama dan pencukuran rambut bayi. 4) Sunatan, seorang anak lelaki yang sudah sunat sudah memasuki dunia akil balig, maka dia seharusnya sudah mampu membedakan antara dunia anak-anak dan dunia dewasa. Ia sudah selayaknya mampu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang melanggar ajaran agama dan adat kesopanan di masyarakat.  Pemuka agama di Kampung Betawi yang mayoritasnya Muslim (Islam) adalah Ustad (guru), Ulama dan Kiyai. Dan interaksi antar agamanya sangat baik, tidak ada perbedaan antara agama Muslim dan Non-Muslim. 

   Dengan adanya Setu Babakan yang merupakan sebuah kawasan perkampungan yang sudah ditetapkan Pemerintah Jakarta bisa membantu generasi muda untuk mengenal, menjaga dan melestarikan Budaya Betawi. Saya juga berharap dengan adanya Setu Babakan ini Budaya Betawi dapat terus lestari dan tidak terpengaruh dampak negatif dari Globalisasi dan Modernisme, seperti : 1) Semakin banyak dan mudah nilai-nilai Barat masuk ke Indonesia,baik melalui internet, media televisi, maupun media cetak yang menyebabkan lunturnya budaya Indonesia, 2) Lunturnya semangat gotong-royong, solidaritas, kepedulian, dan kesetiakawanan social, 3) Terjadi kerusakan lingkungan dan polusi limbah industry, 4) Meningkatnya sikap individualism, 4)Sikap sekularisme, lebih mementingkan kehidupan duniawi dan mengabaikan nilai-nilai agama, 5) Meningkatnya life style, bergaya hidup mewah dan boros dan 6) Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan negaranya sendiri.

Daftar Pustaka

1. Disarikan dari https://id.wikipedia.org/wiki/ - Modernisme (28-06-2015)
2. Disarikan dari https://id.wikipedia.org/wiki/ - Suku Betawi (28-06-2015)
3. Disarikan dari https://setubabakan.wordpress.com/about/ - Setu Babakan (28-06-2015)
4. Disarikan dari upacaraadatbetawi.blogspot.com - Upacara di Setu Babakan (28-06-2015)
7. Disarikan dari TIM CBDC 2015. (2015). CHARACTER BUILDING : KEWARGANEGARAAN. Jakarta: Universitas Bina Nusantara (28-06-2015)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar